Wednesday, May 6, 2020

BELAJAR DARI COVID 19





BELAJAR DARI COVID 19

Oleh;
Tuwuh Handayani, S.Pd.SD.
Kepala SD Negeri  Ngasem III Bojonegoro

“Belajar dari Covid” adalah tema yang diangkat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam peringatan hari Pendidikan Nasional tahun 2020. Pemerintah berharap kepada seluruh insan pendidikan untuk instropeksi diri. Pernyataan tersebut sesuai harapan Mendikbud Nadiem Makarim, “Inilah saatnya berinovasi. Inilah saatnya kita bereksperimen. Inilah saatnya kita mendengarkan hati nurani dan belajar dari covid 19. Belajar dari covid 19 agar kita menjadi bangsa yang lebih baik di masa depan.”
            Pandemi Covid-19 menjadi musibah global yang sedang melanda dunia, termasuk Indonesia.  Covid-19  telah meruntuhkan sendi-sendi pertahanan negara. Salah satunya adalah bidang pendidikan. Pemerintah telah membuat kebijakan-kebijakan strategis untuk menghadapi ini. Sejak awal Maret, berbagai upaya dilakukan untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah pandem Covid-19. Tentunya kebijakan-kebijakan tersebut  berorientasi pada pemutusan rantai penularan virus. Stay at home, study at home, work from home  dengan tetap mengedepankan social distancing dan physical distancing. Berbagai imbauan tersebut telah berpengaruh pada kebijakan pendidikan. 
Kebijakan-kebijakan tersebut menuntut kreativitas dan inovasi pelaku  pendidikan, khususnya  guru. Guru harus berupaya merancang berbagai strategi pembelajaran. Guru harus berupaya tetap mengajar tanpa bertatap muka dengan siswa. Pembelajaran daring menjadi pilihan. Berbagai aplikasi dipelajari dan digunakan untuk mendukung pembelajaran. Hal yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Guru yang sebelumnya gagap teknologi pun akhirnya berupaya keras mempelajarinya.
Pembelajaran daring  mungkin dianggap sangat efektif pada masa pandemi ini. Namun, lemahnya jaringan internet dapat menghambat proses pembelajaran. Belum lagi kebutuhan perangkat gawai beserta paket data internet. Hal ini sangat membebani orang tua siswa, khususnya yang kurang mampu. Selain itu, materi pembelajaran yang diterima siswa tidak akan maksimum. Banyak siswa yang mengeluh karena pembelajaran sebagian besar berorientasi pada penugasan. Ternyata, seberapa pun canggihnya teknologi tidak akan dapat menggantikan sosok seorang guru.
Tugas guru dalam mentransfer pengetahuan (transfer of knowledge) mungkin dapat digantikan teknologi. Namun, tugas guru untuk mentransfer nilai karakter (tranfer of value) tidak akan dapat digantikan oleh apa pun. Gesture  guru di hadapan siswa merupakan katalisator dalam proses pembelajaran. Gesture tersebut dapat mempercepat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Apalagi jika siswa kelas rendah. Mereka sangat membutuhkan kehadiran guru. Guru hendaknya menyadari bahwa kehadirannya sangat dibutuhkan siswa. Oleh karena itu, kemauan untuk memperbaiki diri harus tumbuh dalam benak guru.
Fenomena lain dari kebijakan Belajar di Rumah adalah kesiapan orang tua dalam mendampingi anaknya. Banyak orang tua yang merasa kesulitan membimbing belajar anaknya.  Namun,  mereka juga harus berusaha menjadi guru bagi anaknya. Akhirnya, orang tua pun menyadari bahwa tugas guru sangatlah berat. Demikian juga dengan guru. Di masa pandemi ini, guru harus melakukan komunikasi yang intensif dengan orang tua. Hal ini tentunya untuk bersama-sama mengawal perkembangan belajar sang anak. Pandemi Covid-19 telah menyadarkan perluya kolaborasi antara guru dan orang tua dalam mengawal perkembangan pembelajarn sang anak. 
Pandemi covid 19 ini telah memberikan banyak pelajaran bagi insan pendidikan.  Pelajaran yang menuntut suatu perubahan. Apakah insan pendidikan siap dengan perubahan itu? Apakah guru siap dengan perubahan tersebut? Guru harus move on, jangan merasa nyaman di zona aman. Tingkatkan kompetensi, siapkan kecanggihan teknologi pada diri kita sebagai guru! Demikian juga dengan orang tua. Siap menjadi guru bagi anaknya. Siap menjadikan rumah sebagai tempat belajar anak. Sejatinya semua insan adalah guru dan semua tempat adalah sekolah. Belajar bisa di mana saja, dengan siapa saja, dan kapan saja.

                                                                                                                 Bojonegoro, 05 Me2020