Tuesday, May 4, 2021

TRANSFORMASI MERDEKA BELAJAR KI HAJAR DEWANTARA DAN MAS NADIEM


Oleh:

Tuwuh Handayani, S.Pd.SD.

Kepala SD Negeri Ngasem III Bojonegoro


Merdeka Belajar tahun 2021 merupakan program  transformasi pendidikan dan pemajuan kebudayaan. Program tersebut merupakan terobosan Kemendikbud dalam menyiapkan generasi yang adaptif di era industri 4.0. Sebelumnya, pada tahun 2020 Kemendikbud telah menghadirkan terobosan Merdeka Belajar melalui enam episode.  Saat ini, Mendikbud merencanakan delapan program prioritas Merdeka Belajar.  Delapan program tersebut adalah Kartu Indonesia Pintar, digitalisasi sekolah, prestasi dan penguatan karakter, guru penggerak, kurikulum baru, revitalisasi pendidikan vokasi, kampus merdeka, serta pemajuan kebudayaan dan bahasa. Harapan Mendikbud Ristek dalam sambutannya, dengan Merdeka Belajar, anak-anak Indonesia menjadi pelajar yang memegang teguh falsafah Pancasila, pelajar yang merdeka sepanjang hayatnya, dan mampu menyongsong masa depan dengan percaya diri.

Konsep Merdeka Belajar sebetulnya telah lahir dari pemikiran tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara.  Pemikiran dan gagasannya bersifat visioner. Beliau mampu memberikan gagasan-gagasan brilian untuk pendidikan  masa depan. Oleh karena itu, Ki Hajar Dewantara termasuk tokoh futuris.

Menurut Ki Hajar Dewantara, hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Hal ini berarti, membawa manusia keluar dari belenggu kebodohan menjadi manusia yang merdeka. Manusia yang merdeka dalam arti bebas berpikiran, berperasaan, dan bekerja demi pencapaian tujuan dalam perkembangan kodrati.

Ki Hajar Dewantara membedakan sistem pengajaran dan pendidikan. Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek lahiriyah (kemiskinan dan kebodohan). Pendidikan memerdekakan manusia dari aspek batiniah (otonomi berpikir dan bermartabat).

Pilar Merdeka Belajar Ki Hajar Dewantara adalah Sistem Among. Pendidikan Sistem Among bersendikan pada dua hal, yaitu kodrat alam dan kemerdekaan. Pendidikan harus bisa mengembalikan peserta didik menjadi manusia sesuai kodratnya, yaitu manusia yang mandiri, beriman dan bertakwa, berbudi pekerti luhur, cerdas, terampil, dan sehat jasmani serta rohani. Pendidikan juga harus mampu memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk menentukan pilihannya, sehingga menjadi pribadi yang demokratis dan bertanggung jawab. Esensinya selaras dengan tujuan pendidikan nasional sekarang ini.

Guru merupakan ujung tombak dalam mewujudkan program Merdeka Belajar. Sebagai frontliner, guru harus mampu menjadi fasilitator yang memberikan kebebasan peserta didiknya untuk mengembangkan potensi diri. Kebebasan yang dimaksud harus tetap pada koridor pendidikan dan pengajaran. Guru tidak hanya mampu mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), namun harus mampu mentranfer nilai-nilai karakter (transfer of value) juga. Seperti halnya konsep sistem Among  dengan metode asah, asih, dan asuh (care and dedication based on love). Dengan demikian, guru harus mampu mengajar ilmu pengetahuan, mendidik nilai-nilai karakter, dan melatih keterampilan dengan penuh kasih sayang.

Guru sebagai pendidik harus menjadi uswah atau central figure.   Hal ini sesuai prinsip ing ngarsa sung tuladha. Model yang dicontohkan guru akan membentuk peserta didik memiliki kebebasan yang  bertanggung jawab. Kebebasan yang dibatasi oleh nilai-nilai karakter. Sebagai pamong, guru harus memegang prinsip ing madya mangun karsa. Guru harus memberikan kebebasan kepada peserta didik agar dapat mengembangkan bakat dan minatnya untuk selalu berkarya. Sebagai motivator, guru harus berdiri di belakang,  memberi kebebasan dan dorongan  kepada pesrta didik  untuk berjalan sendiri. Inilah yang disebut tut wuri handayani.

Konsep merdeka belajar yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara sinergis dengan program merdeka belajar yang dicetuskan oleh Kemendikbud. Esensi dari Merdeka Belajar pada hakikatnya adalah kebebasan berpikir yang ditujukan bagi guru dan peserta didik. Guru harus memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengeksploitasi pengetahuan seluas-luasnya. Strategi pembelajaran yang dirancang guru hendaknya merangsang daya nalar peserta didik. Daya nalar yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah sehari-hari. Hal tersebut akan menjadikan peserta didik menjadi pribadi yang mandiri dan mampu menjawab tantangan kehidupan.  Pembelajaran yang merdeka juga diharapkan  akan membentuk generasi yang peduli terhadap lingkungan. Mengingat hal tersebut, maka guru adalah faktor utama pendukung terwujudnya program Merdeka Belajar. Guru sebagai agen pembaharuan (agent of change) harus dapat menjadi transformator dalam mewujudkan Merdeka Belajar.. Program Guru Penggerak merupakan salah satu terobosan Kemendikbud dalam mewujudkan program Merdeka Belajar.

          Salah satu kebijakan Merdeka Belajar yang digagas oleh Kemendikbud  tidak hanya menekankan aspek pengetahuan sebagai tujuan utama pendidikan. Namun, tercapainya keseimbangan aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan bagi peserta didik. Transformasi asesmen  dilakukan melalui empat hal, yaitu survei literasi, survei numerasi, survei karakter, dan survei lingkungan belajar. Survei literasi  dimaksudkan agar peserta didik mampu bernalar, memahami, dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Survei numerasi berupa kemampuan pemahaman matematika. Survei ini dilakukan untuk melatih berfikir kritis dalam memecahkan masalah sehari-hari. Survei karakter  meliputi pengetahuan kebhinnekaan, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui survei ini, diharapkan peserta didik mampu mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Survei ini diharapkan menjadikan profil pelajar Pancasila  sesuai dengan visi dan misi Kemendikbud.   Pelajar pancasila nantinya akan menjadi perwujudan pelajar Indonesia yang mampu bersaing dalam kompetisi global bersendikan nilai-nilai pancasila. Survei lingkungan belajar berarti menggali informasi mengenai kualitas proses pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran. Survei ini bertujuan untuk melihat kualitas proses belajar mengajar serta suasana yang mendukung pembelajaran di sekolah.

            Program Merdeka Belajar yang akan kita wujudkan dijiwai oleh pemikiran tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara. Berbagai terobosan-terobosan Merdeka Belajar yang diluncurkan oleh Kemendikbud merupakan upaya tranformasi pendidikan. Transformasi pendidikan yang bertujuan agar bangsa Indonesia tidak jalan di tempat, namun dapat berubah menjadi lompatan-lompatan kemajuan. Harapan  ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan,  Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim dalam sambutannya pada hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2021.

            Esensi  Merdeka Belajar yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara dan Kemendikbud pada hakikatnya adalah sama. Keduanya sama-sama memberikan kebebasan kepada guru dan peserta didik untuk berpikir dan berinovasi. Guru bebas berinovasi  untuk mengembangkan pembelajaran yang mampu melatih berpikir kritis bagi peserta didiknya. Inovasi-inovasi tersebut tetap berlandaskan pada sifat kodrati yang dimiliki oleh peserta didik sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. Inovasi yang tetap mengedepankan nilai-nilai karakter sebagai benteng dan filter dari pengaruh globalisasi di segala bidang. Peserta didik mendapat kebebasan untuk menentukan pilihannya, menunjukkan keberagamannya, dan mengekspresikan potensi diri, bakat, dan minatnya. Peserta didik mendapat penghargaan yang sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Peserta didik tidak hanya dihargai kemampuan intelektualnya. Namun, peserta didik mendapat penghargaan dari segi afeksi dan keterampilan yang dimilikinya. Untuk maksud tersebut, peserta didik akan menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, mandiri,  kreatif, demokratis, dan bertanggung jawab. Peserta didik tumbuh menjadi generasi yang kompetitif, adaptif, dan mampu menjawab tantangan dunia global. Indonesia harus dapat memanfaatkan bonus demografi tahun 2030 menuju generasi emas 2045. Oleh karena itu, marilah serentak bergerak mewujudkan merdeka belajar demi Indonesia yang maju.

 


Editor: Akang Azam