LITERAT
DIGITAL BERKARAKTER
Dampak positif dan negatif
penggunaan media digital (misal: gadget) bagi anak merupakan masalah yang
dilematis. Banyak orang tua memberi batasan pada anaknya dalam menggunakan gadget. Namun, tidak sedikit pula dari
mereka yang memberi kebebasan pada anaknya. Dalam hal ini, mereka mempunyai
alasan sendiri-sendiri. Bagaimanakah seharusnya orang tua dan pendidik
menyikapi hal tersebut?
Perkembangan
media digital dengan segala fasilitasnya akan berdampak besar bagi penggunanya.
Tidak bisa kita pungkiri, anak usia balita hingga mereka yang berusia manula
menjadi penggemar media tersebut. Mengapa demikian? Hal ini karena, media
digital menyediakan berbagai bentuk layanan untuk berbagai kebutuhan. Anak mulai
usia 4 tahun sudah mampu mengoperasikan smarth
phone atau android untuk bermain game. Mereka bahkan bisa menulis pesan
lewat whatsapp meskipun harus
mengeja. Anak-anak usia dini sudah mampu mengunduh aplikasi yang tersedia di smart phone atau android. Mereka belajar
secara otodidak. Kebiasaan yang sering mereka lihat dari orang-orang di
sekitarnya bisa diserap oleh nalarnya. Demikian juga dengan kemampuan anak-anak
pada umumnya dalam mengakses informasi melalui media digital. Kemampuan untuk
memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber yang diakses melalui media
digital tersebut disebut literasi digital.
Literasi
digital merupakan hal yang urgen bagi anak agar mereka dapat berpartisipasi di
dunia modern. Oleh karena itu, generasi literat digital hendaknya
dapat memproses
berbagai informasi, dapat memahami pesan dan berkomunikasi efektif dengan orang
lain dalam berbagai bentuk. Mereka dapat menciptakan, mengolaborasi,
mengomunikasikan suatu pesan sesuai dengan aturan etika. Mereka
hendaknya paham kapan dan bagaimana teknologi dapat digunakan sehingga efektif
mencapai tujuan. Hal ini diperlukan kesadaran dan berfikir kritis terhadap
berbagai dampak positif dan negatif dari penggunaan teknologi tersebut. Dengan
pola pikir yang kritis dan kreatif, mereka tidak akan mudah terprovokasi dan
terpengaruh oleh informasi hoaks. Dalam
hal ini, maka diperlukan literat yang berkarakter sejak dini. Oleh karena itu,
orang tua dan guru selaku pendidik hendaknya
bisa mengarahkan anak didik untuk menjadi literat yang berkarakter.
Bagaimanakah
membentuk anak menjadi literat yang berkarakter sejak dini? Hal ini tentulah
tidak semudah membalik telapak tangan. Guru dan orang tua hendaknya bisa mengiternalisasikan nilai-nilai karakter pada
anak melalui media digital tersebut. . Nilai-nilai karakter tersebut akan
membentuk karakter atau mental pada diri anak. Carrol ( dalam Megawangi,
2012:10) mengatakan bahwa karakter adalah kualitas otot yang terbentuk melalui
latihan setiap hari dan setiap jam dari seorang pejuang spiritual. Karakter
ibarat otot. Otot-otot karakter akan menjadi lembek apabila tidak pernah
dilatih. Sebaiknya, ia akan kuat dan kokoh kalau sering dipakai. Seperti
seorang binaragawan yang terus menerus berlatih untuk membentuk ototnya.
Otot-otot karakter juga akan terbentuk melalui praktik-praktik latihan, yang
akhirnya akan menjadi kebiasaan. Dari pendapat tersebut maka dapat dikatakan
bahwa karakter dapat dibentuk melalui
latihan dan pembimbingan.
Untuk
membentuk literat digital yang berkarakter tersebut, maka pendidik sendiri harus
memiliki kompetensi digital. Jika tidak, mereka bisa minta bimbingan pada orang
yang lebih kompeten. Apa salahnya belajar? Karena guru dan orang tua hendaknya
harus mengikuti perkembangan teknologi informasi. Bagaimana mereka dapat
membentuk literat digital yang
berkarakter jika tidak memiliki kompetensi digital. Mereka tentunya harus memberi
pendampingan dan pembimbingan pada anak didiknya. Hal tersebut sangat
diperlukan khususnya anak-anak pada usia
dini dan sekolah dasar. Pada usia tersebut
merupakan usia emas sebagai dasar dari
pembentukan karakter.
Pembentukan
literat digital yang berkarakter dapat dilakukan di sekolah maupun di rumah.
Hal ini sejalan dengan pendapat Ki Hajar Dewantara tentang Tri Pusat
Pendidikan. Pendidikan karakter merupakan tanggung jawab sekolah, keluarga, dan
masyarakat. Di sekolah berbagai cara
bisa dilakukan pendidik untuk dapat mengajarkan nilai-nilai karakter melalui
media digital. Cara yang mereka gunakan
tentunya disesuaikan dengan usia anak. Misalnya, anak usia dini (usia 3-7
tahun) senang cerita fantasi atau dongeng. Oleh karena itu, kita bisa mengunduh
aplikasi video yang berisi dongeng-dongeng yang mendidik. Tentunya, pendidik
harus mendampingi saat anak membukanya. Pendidik bisa memberi bimbingan terkait
dongeng yang dilihat. Metode kuis, tanya jawab, atau permainan bisa kita
variasikan dengan video tadi. Tentunya hal ini akan lebih menarik bagi anak. Apalagi
jika pendidik memberikan reward pada mereka.
Bagaimana
dengan anak-anak yang berusia 8- 12
tahun? Pada usia ini, anak-anak lebih suka bermain game dengan gadgetnya. Oleh karena itu, pendidik bisa mengarahkan
anak-anak untuk belajar dengan game.
Di sekolah, guru bisa mengaplikasikan game
dengan pembelajaran. Apalagi jika guru bisa menciptakan game yang sehat. Maksudnya adalah game yang bisa menjadi media penanaman karakter pada anak.
Anak-anak harus diarahkan agar tidak bermain game yang mengandung kekerasan. Karena hal ini bisa berdampak pada
mental anak. Pada akhirnya akan terjadi bullying
di antara mereka.
Pembentukan
literat yang berkarakter juga dapat dilakukan di lingkungan keluarga.
Lingkungan ini sangat berpengaruh terhadap karakter anak. Hal ini karena,
sebagian besar waktu anak berada di lingkungan keluarga. Orang tua diharapkan mampu secara bijak dan
tepat mengarahkan dan mengembangkan budaya literasi digital di keluarga. Mereka
harus mampu menjadi teladan literasi
dalam menggunakan media digital. Orang tua hendaknya memahami situs-situs apa
yang aman digunakan anak. Mereka juga harus dapat mengajarkan bagaimana
menggunakan media sosial secara bijaksana. Orang tua hendaknya mampu
mengarahkan anak agar memaksimalkan pemanfaatan internet untuk
mencari informasi dan pengetahuan dengan baik.
Jadi, orang tua yang memberi
kesempatan untuk mengakses media digital kepada anak tidaklah salah. Hal ini
agar anak siap dan dapat bersaing dalam
percaturan di era modernisasi. Namun, orang tua dan pendidik hendaknya
memberikan pendampingan dan pembimbingan. Sehingga, anak akan menjadi literat yang berkarakter.