Saturday, March 28, 2020

Literat Digital Berkarakter


LITERAT DIGITAL BERKARAKTER

            Dampak positif dan negatif penggunaan media digital (misal: gadget) bagi anak merupakan masalah yang dilematis. Banyak orang tua memberi batasan pada anaknya dalam menggunakan gadget. Namun, tidak sedikit pula dari mereka yang memberi kebebasan pada anaknya. Dalam hal ini, mereka mempunyai alasan sendiri-sendiri. Bagaimanakah seharusnya orang tua dan pendidik menyikapi hal tersebut?
Perkembangan media digital dengan segala fasilitasnya akan berdampak besar bagi penggunanya. Tidak bisa kita pungkiri, anak usia balita hingga mereka yang berusia manula menjadi penggemar media tersebut. Mengapa demikian? Hal ini karena, media digital menyediakan berbagai bentuk layanan untuk berbagai kebutuhan. Anak mulai usia 4 tahun sudah mampu mengoperasikan smarth phone atau android untuk bermain game. Mereka bahkan bisa menulis pesan lewat whatsapp meskipun harus mengeja. Anak-anak usia dini sudah mampu mengunduh aplikasi yang tersedia di smart phone atau android.  Mereka belajar secara otodidak. Kebiasaan yang sering mereka lihat dari orang-orang di sekitarnya bisa diserap oleh nalarnya. Demikian juga dengan kemampuan anak-anak pada umumnya dalam mengakses informasi melalui media digital. Kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber yang diakses melalui media digital tersebut  disebut literasi digital.
Literasi digital merupakan hal yang urgen bagi anak agar mereka dapat berpartisipasi di dunia modern. Oleh karena itu, generasi literat digital hendaknya dapat memproses berbagai informasi, dapat memahami pesan dan berkomunikasi efektif dengan orang lain dalam berbagai bentuk. Mereka dapat menciptakan, mengolaborasi, mengomunikasikan suatu pesan sesuai dengan aturan etika.   Mereka hendaknya paham kapan dan bagaimana teknologi dapat digunakan sehingga efektif mencapai tujuan. Hal ini diperlukan kesadaran dan berfikir kritis terhadap berbagai dampak positif dan negatif dari penggunaan teknologi tersebut. Dengan pola pikir yang kritis dan kreatif, mereka tidak akan mudah terprovokasi dan terpengaruh oleh informasi hoaks.  Dalam hal ini, maka diperlukan literat yang berkarakter sejak dini. Oleh karena itu, orang tua dan guru selaku pendidik  hendaknya bisa mengarahkan anak didik untuk menjadi literat yang berkarakter.
Bagaimanakah membentuk anak menjadi literat yang berkarakter sejak dini? Hal ini tentulah tidak  semudah membalik telapak tangan.  Guru dan orang tua hendaknya bisa  mengiternalisasikan nilai-nilai karakter pada anak melalui media digital tersebut. . Nilai-nilai karakter tersebut akan membentuk karakter atau mental pada diri anak. Carrol ( dalam Megawangi, 2012:10) mengatakan bahwa karakter adalah kualitas otot yang terbentuk melalui latihan setiap hari dan setiap jam dari seorang pejuang spiritual. Karakter ibarat otot. Otot-otot karakter akan menjadi lembek apabila tidak pernah dilatih. Sebaiknya, ia akan kuat dan kokoh kalau sering dipakai. Seperti seorang binaragawan yang terus menerus berlatih untuk membentuk ototnya. Otot-otot karakter juga akan terbentuk melalui praktik-praktik latihan, yang akhirnya akan menjadi kebiasaan. Dari pendapat tersebut maka dapat dikatakan bahwa  karakter dapat dibentuk melalui latihan dan pembimbingan.
Untuk membentuk literat digital yang berkarakter tersebut, maka pendidik sendiri harus memiliki kompetensi digital. Jika tidak, mereka bisa minta bimbingan pada orang yang lebih kompeten. Apa salahnya belajar? Karena guru dan orang tua hendaknya harus mengikuti perkembangan teknologi informasi. Bagaimana mereka dapat membentuk literat digital  yang berkarakter jika tidak memiliki kompetensi digital. Mereka tentunya harus memberi pendampingan dan pembimbingan pada anak didiknya. Hal tersebut sangat diperlukan khususnya  anak-anak pada usia dini dan  sekolah dasar. Pada usia tersebut merupakan usia emas sebagai  dasar dari pembentukan karakter.
Pembentukan literat digital yang berkarakter dapat dilakukan di sekolah maupun di rumah. Hal ini sejalan dengan pendapat Ki Hajar Dewantara tentang Tri Pusat Pendidikan. Pendidikan karakter merupakan tanggung jawab sekolah, keluarga, dan masyarakat. Di sekolah  berbagai cara bisa dilakukan pendidik untuk dapat mengajarkan nilai-nilai karakter melalui media digital. Cara yang  mereka gunakan tentunya disesuaikan dengan usia anak. Misalnya, anak usia dini (usia 3-7 tahun) senang cerita fantasi atau dongeng. Oleh karena itu, kita bisa mengunduh aplikasi video yang berisi dongeng-dongeng yang mendidik. Tentunya, pendidik harus mendampingi saat anak membukanya. Pendidik bisa memberi bimbingan terkait dongeng yang dilihat. Metode kuis, tanya jawab, atau permainan bisa kita variasikan dengan video tadi. Tentunya hal ini akan lebih menarik bagi anak. Apalagi jika pendidik memberikan reward  pada mereka.
Bagaimana dengan  anak-anak yang berusia 8- 12 tahun? Pada usia ini, anak-anak lebih suka bermain game dengan gadgetnya. Oleh karena itu, pendidik bisa mengarahkan anak-anak untuk belajar dengan game. Di sekolah, guru bisa mengaplikasikan game dengan pembelajaran. Apalagi jika guru bisa menciptakan game yang sehat. Maksudnya adalah game yang bisa menjadi media penanaman karakter pada anak. Anak-anak harus diarahkan agar tidak bermain game yang mengandung kekerasan. Karena hal ini bisa berdampak pada mental anak. Pada akhirnya akan terjadi bullying di antara mereka.
            Pembentukan literat yang berkarakter juga dapat dilakukan di lingkungan keluarga. Lingkungan ini sangat berpengaruh terhadap karakter anak. Hal ini karena, sebagian besar waktu anak berada di lingkungan keluarga.  Orang tua diharapkan mampu secara bijak dan tepat mengarahkan dan mengembangkan budaya literasi digital di keluarga. Mereka harus mampu menjadi  teladan literasi dalam menggunakan media digital. Orang tua hendaknya memahami situs-situs apa yang aman digunakan anak. Mereka juga harus dapat mengajarkan bagaimana menggunakan media sosial secara bijaksana. Orang tua hendaknya mampu mengarahkan anak agar   memaksimalkan pemanfaatan internet untuk mencari informasi dan pengetahuan dengan baik.
            Jadi, orang tua yang memberi kesempatan untuk mengakses media digital kepada anak tidaklah salah. Hal ini agar anak  siap dan dapat bersaing dalam percaturan di era modernisasi. Namun, orang tua dan pendidik hendaknya memberikan pendampingan dan pembimbingan. Sehingga,  anak akan  menjadi literat yang berkarakter.